Suatu
ketika, entah kapan. Kang Juhi-penjual gorengan dari pinggiran
Ibukota-berjalan-jalan menikmati udara malam, hingga tersasar ke sebuah mal
yang penuh dengan kedai makanan. Udaranya sejuk melebihi kesejukan udara di
mana ia tinggal, meski di sana masih banyak ditumbuhi pepohonan rindang.
Dilihatnya semua pengunjung mal, termasuk yang tengah menikmati hidangan
berbicara perlahan-nyaris saling berbisik satu sama lainnya.
Kang
Juhi menjadi lapar saat melihat berbagai makanan yang mengundang selera. Namun
Kang Juhi sadar, makanan itu tak ada yang murah. Murah untuk ukuran kantongnya,
tentu saja. Bila ia memaksakan diri juga untuk makan di sana, niscaya hasil
penjualan gorengannya hari ini akan terkuras habis hanya dalam tempo beberapa
menit. Dan itu berarti, besoknya ia tak dapat berjualan lagi. Jadinya, ia
mengurungkan niat suci itu. Kang Juhi lebih memilih jalan-jalan saja dan
mempersetankan para cacing yang bergelinjangan di perutnya yang tipis.
Di depan
sebuah kedai, Kang Juhi menghentikan langkah. Ia melihat beberapa orang
bertubuh gempal ditemani pasangannya, tengah menikmati hidangan pada dua buah
meja yang dirapatkan menjadi satu. Mereka berbicara agak keras, tidak lagi
berbisik. Terkadang terbahak, hingga makanan yang tengah mereka kunyah saling
berlompatan ke atas meja. Beberapa ada yang masuk ke dalam piring, nemplok pada
hidangan-hidangan lezat yang masih mengepul.
Yang
membuat Kang Juhi terpana. Sekumpulan makhluk itu bukan tengah menikmati
hidangan yang tersaji di meja, Melainkan, mereka sedang menikmati belatung yang
bermunculan dari anggota tubuh mereka sendiri. Mereka terus tertawa-tawa sambil
mengunyah belatung yang terus bermunculan dari segenap tubuh mereka.
Dilihatnya
lagi, seorang perempuan mencomot sebuah belatung dari mulut pasangannya yang
menempel di bibir lalu memasukan ke mulutnya sendiri. Perempuan itu saling
tertawa dengan pasangannya, lalu disambut meriah oleh pasangan lainnya.
Ketika
belatung-belatung itu habis, sekawanan makhluk itu meneruskan dengan menggigiti
lengan mereka masing-masing. Hingga berdarah-darah. Hingga darah itu
menggenangi lantai kedai. Tak puas menggigiti lengan sendiri, mereka
melanjutkannya dengan saling menggigiti sesama mereka. Sambil cengengesan.
Sambil terbahak. Dan daging penuh darah muncrat mengotori lantai.
Sementara
pengunjung lainnya tak ada yang peduli. Asyik dengan urusan perut
masing-masing. Kang Juhi semakin bingung dan kian terpana. Siapa mereka? Tanya
Kang Juhi dalam hati. Namun tak jua ada jawaban karena pertanyaan hanya
menggumpal dalam kepalanya saja.
Seorang
pelayan yang memperhatikan sejak tadi, menghampiri lalu mengusir Kang Juhi
dengan kasar. Kang Juhi membalikkan badan hendak berlalu, namun sebelum itu ia
masih sempat bertanya pada pelayan yang kampungan itu.
"Siapa
mereka? Kenapa mereka saling menggigiti anggota tubuh mereka sendiri?"
"Mereka
anggota dewan dari sebuah negara yang letaknya sangat jauh diangan-angan,"
jawab pelayan itu sambil mendelik.
Kang
Juhi terus berlalu sambil mencubit lengannya, dengan harapan ia sedang
bermimpi. Namun cubitan perlahan pada lengannya itu terasa lebih sakit dari
biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar