PASANG BANNER ANDA DI yossprabu.blogspot.com

">
Alt/Text Gambar
">

Rabu, 13 Maret 2013

Sketsa


Ini kisah Nyata. Seseorang menceritakannya pada saya.

Air Wudhu Sang Ibu

Dari sekian banyak teman Dela, hanya satu yang selalu membuatnya mengurut dada. Karena perempuan beranak dua itu, selalu tak habis pikir dengan temannya yang bernama Siti. Pasalnya, Siti itu bukan termasuk perempuan yang berparas jelek-jelek amat. Dalam arti kata, bila dibanding dengan Luna Maya saja, boleh dibilang hanya beda tipis. Itu bisa ditandai bila Siti sedang berbaur di keramaian. Hanya lelaki bego saja yang tak menoleh dua kali saat berpapasan dengan Siti. Homo saja masih terkagum-kagum.
Namun anehnya, tak satu pun lelaki teman sekantor atau di luaran yang berusaha untuk mendekat. Jangankan berusaha memacari. Hanya untuk sekedar berkenalan saja, sepertinya banyak lelaki yang tak berhasrat. Apakah para lelaki itu agak minder dengannya atau apa, belum jelas. Sepertinya ada sesuatu dalam tubuh Siti yang membuat kaum Adam enggan untuk kenal dirinya lebih jauh. Padahal, lokasi tempat Siti dan Dela bekerja adalah lokasi segitiga emas di mana para lelaki eksekutif muda biasa lalu-lalang. Dan rata-rata macho banget.
Dela sendiri sebagai sesama wanita jelas merasa kasihan melihat ketabahan dan kebetahan Siti ngejomblo. Bila diperhatikan dengan seksama, jelas sekali tak ada nilai-nilai negatif yang melekat pada Siti. Kecantikan, oke. Body pun yahud. Ketika masih gadis, Dela pernah tinggal satu kost dengan Siti. Jadi ia tahu betul tentang Siti luar dalam.
Dengan kata lain. Siti, cantik bertubuh sintal dan rajin beribadat. Malah Dela terkadang suka membandingkan antara dirinya dengan Siti. Jauuu…h. Siti cantik tinggi semampai, berjilbab dan lemah-lembut. Sementara dirinya, paras ngepas dengan tubuh agak pendek, nyaris gendut. Itu bukan berarti yang gendut dan pendek kurang bagus. Bukan. Konteknya hanya perbandingan antara Siti dengan Dela saja.
Tapi kalau masalah pacaran, Dela lebih mahir ketimbang Siti. Puluhan lelaki keren telah mampir dalam kehidupannya. Dua pertiga dari jumlah yang tak diingat Dela, telah menderita patah hati akut. Dan sekarang Dela telah dikaruniai dua anak yang manis-manis dari hasil perkawinannya dengan seorang kameramen sebuah stasiun swasta. Sementara Siti, masih tetap tabah dan betah ngejomblo.
Karena merasa iba atas keanehan Siti itulah, Dela berusaha menolong dengan segala macam cara. Dari memperkenalkan banyak lelaki hingga mengajak Siti ke berbagai tempat konsultasi. Termasuk dukun. Entah itu dukun pelet, dukun sunat, dukun cabul, dukun santet hingga dukun palsu. Semua telah disatroni. Hasilnya? Tak ada yang ampuh.
Hingga suatu hari. Dela diajak suaminya pulang kampung untuk beranjangsana ke orangtuanya di salah satu kota di Jawa Barat. Di kampung mertuanya itulah, Dela mengetahui ada seseorang yang dapat melakukan pengobatan alternatif. Di kampung itu, seseorang yang dapat melakukan pengobatan alternatif biasa disebut dukun. Tak peduli dia seorang ustadz atau pun kyai.
Nah, usai acara kangen-kangenan dengan mertua. Beberapa hari kemudian diseretlah Siti ke tempat dukun itu. Mulanya Siti ogah. Dia bilang, “Percuma, biar saja Nin. Barangkali ini memang sudah nasibku.” Eh, apatis sekali dia, gerutu Dela dalam hati. Tapi ibu dua anak itu tak peduli. Hitung-hitung sekalian ingin membuktikan kemanjuran dukun yang guru ngaji itu.
Sesampainya di pedalaman Jawa Barat, Dela dan Siti berhadapan dengan guru ngaji yang sudah tua dengan jenggot nyaris mencapai dada. Siti duduk menunduk sementara sang dukun merem-melek dengan bibir komat-kamit. Baca mantera tentu saja.
Di “kantor” sang dukun tak ada benda-benda menyeramkan. Seperti tengkorak kepala manusia. Puluhan keris atau tempayan dengan kembang setaman. Tak ada itu. Juga tak ada bau kemenyan, yang biasa menjadi pelengkap suatu ritual klenikJustru yang ada malah bau au de colone yang menyeruak dari ketiak Dela.
Cukup lama juga dukun itu melakukan opening ritualnya. Tubuhnya bergoyang ke kiri lalu ke kanan. Kadang banyak ke kiri ketimbang kanannya. Atau ke kiri tidak, kanan pun tidak. Goyangnya ke depan dan belakang. Malahan sesekali tubuhnya bergetar sangat hebat. Dela sempat kepikiran, kalau dukun ini dipastikan sering naik bajaj. Mulutnya tambah komat-kamit mirip gerundelan bos di kantor. Dela tak tahu apa yang sebenarnya dilakukan dukun itu. Dia cuma tahu kalau penderitaan mulai membentang, akibat betisnya yang agak “kesebelasan” sudah terasa kesemutan dan pegal-pegal. Harapan yang mulai menggumpal dalam hati, agar dukun itu menggunakan mantera yang pendek-pendek saja. Sebab duduk di tikar bercelana jeans ketat, menambah penderitaannya semakin tak karuan.  
Harapan terkabulkan. Itu pun setelah Dela nyaris pingsan. Terlihat mata dukun itu mulai terbuka. Mengerjap sebentar lalu memandang Dela dan Siti secara bergantian. Dela menarik nafas. Lega. Sebab acara ritual, yang membuat Dela bersumpah tak akan mengikutinya lagi andai suatu hari di hadapkan pada masalah yang sama, telah selesai.
Dengan lembut sang dukun berujar, “Obatnya gampang ini mah. Neng Siti pulang kampung saja dulu terus sujud sama Mak. T’rus Neng Siti minta air bekas wudhu Mak. Segelas diminum, sisanya untuk mandi. Insya Allah permintaan Neng Siti dikabulkeun.”
Dela tersenyum senang sementara Siti tetap apatis. Tak lama kemudian Dela dan Siti mohon pamit pada sang dukun. Tak lupa memasukkan sodaqoh pada kotak yang telah disediakan dekat pintuk masuk. Dan kembali ke Jakarta karena pekerjaan kantor menumpuk. Hanya sampai di situ saja Dela dapat menolong, untuk selanjutnya itu terserah Siti. Namun di samping itu, Dela juga tak rela bila missi suci ini tidak diselesaikan hingga tuntas. Ia mendesak agar Siti segera pulang kampung lalu melaksanakan sesuai anjuran sang dukun.
Setelah Dela mendesak beberapa kali dan Siti butuh waktu berhari-hari untuk berpikir, akhirnya Siti pun menurut. Kadung telah meminta cuti di kantor. Esoknya Siti segera melesat pulang kampung untuk menghadap Maknya di sebuah kota di Jawa Tengah.
Hasilnya memang mujarab. Tiga bulan kemudian Siti dipinang seorang lelaki ganteng yang katanya dikenalnya di kereta api saat Siti kembali ke Jakarta. Enam bulan setelah itu, mereka menikah di kantor urusan agama dan dirayakan secara sederhana. Hanya mengundang teman-teman dekat saja. Termasuk Dela, yang jasanya perlu dicatat dalam lembaran sejarah. Ia hadir bersama suami dan kedua anaknya, sekalian turut sebagai saksi.
Dela turut bahagia melihat temannya telah mendapatkan pasangan hidup. Namun hingga anak pertama Siti lahir, satu setengah tahun kemudian, Dela masih belum mengerti tentang apa yang menjadi penyebab kejombloan Siti itu. Usut punya usut, ternyata selama itu Maknya Siti di kampungnya tidak pernah menjalankan shalat 5 waktu.
Pantesan, Siti disuruh meminta air wudhu sang ibu. Itu dimaksudkan agar Maknya Siti mau kembali melakukan shalat lima waktu. Begitu.

Jakarta, 2013







Tidak ada komentar:

Posting Komentar