Ini kisah Nyata. Seseorang menceritakannya pada saya.
Air Wudhu
Sang Ibu
Dari sekian banyak teman Dela,
hanya satu yang selalu membuatnya mengurut dada. Karena perempuan beranak dua
itu, selalu tak habis
pikir dengan temannya yang bernama Siti. Pasalnya, Siti itu
bukan termasuk perempuan yang berparas jelek-jelek amat. Dalam arti
kata, bila dibanding dengan Luna Maya saja, boleh dibilang hanya beda tipis. Itu bisa ditandai bila Siti sedang berbaur di keramaian. Hanya lelaki bego
saja yang tak menoleh dua kali saat berpapasan dengan Siti. Homo saja masih
terkagum-kagum.
Namun anehnya, tak satu pun lelaki teman sekantor
atau di luaran yang
berusaha untuk mendekat. Jangankan berusaha memacari. Hanya untuk sekedar
berkenalan saja, sepertinya banyak lelaki yang
tak berhasrat. Apakah para lelaki itu agak
minder dengannya atau apa, belum jelas. Sepertinya ada sesuatu dalam tubuh Siti yang
membuat kaum Adam enggan untuk kenal dirinya lebih jauh. Padahal, lokasi
tempat Siti dan Dela bekerja
adalah lokasi segitiga emas di mana para lelaki eksekutif muda biasa lalu-lalang. Dan
rata-rata macho banget.
Dela sendiri sebagai sesama wanita jelas merasa
kasihan melihat ketabahan dan kebetahan Siti ngejomblo. Bila diperhatikan
dengan seksama, jelas sekali tak ada nilai-nilai negatif yang melekat pada
Siti. Kecantikan, oke. Body pun yahud. Ketika masih gadis, Dela pernah tinggal
satu kost dengan Siti. Jadi ia tahu betul tentang Siti luar dalam.
Dengan kata lain. Siti, cantik bertubuh sintal dan
rajin beribadat. Malah Dela terkadang suka membandingkan antara dirinya dengan
Siti. Jauuu…h. Siti
cantik tinggi semampai, berjilbab dan lemah-lembut. Sementara dirinya, paras
ngepas dengan tubuh agak pendek, nyaris gendut. Itu bukan berarti
yang gendut dan pendek kurang bagus. Bukan. Konteknya hanya perbandingan antara
Siti dengan Dela saja.
Tapi kalau masalah pacaran, Dela lebih mahir ketimbang Siti.
Puluhan lelaki keren telah mampir dalam kehidupannya. Dua pertiga dari jumlah yang tak diingat Dela, telah menderita patah hati
akut. Dan sekarang
Dela telah dikaruniai dua anak yang manis-manis dari hasil perkawinannya dengan
seorang kameramen sebuah stasiun swasta. Sementara Siti, masih tetap tabah dan
betah ngejomblo.
Karena merasa iba atas keanehan Siti itulah, Dela berusaha menolong dengan
segala macam cara. Dari memperkenalkan banyak lelaki hingga mengajak Siti
ke berbagai tempat konsultasi. Termasuk dukun. Entah itu dukun pelet, dukun sunat,
dukun cabul, dukun santet hingga dukun palsu. Semua telah disatroni. Hasilnya?
Tak ada yang ampuh.
Hingga suatu hari. Dela diajak suaminya pulang kampung untuk beranjangsana ke orangtuanya di salah satu kota di Jawa Barat. Di
kampung mertuanya itulah,
Dela mengetahui ada seseorang yang dapat melakukan pengobatan alternatif. Di
kampung itu, seseorang yang dapat melakukan pengobatan alternatif biasa
disebut dukun. Tak peduli dia seorang ustadz atau pun kyai.
Nah, usai acara kangen-kangenan dengan mertua.
Beberapa hari kemudian diseretlah Siti ke tempat dukun itu. Mulanya Siti ogah.
Dia bilang, “Percuma, biar saja Nin. Barangkali ini memang sudah nasibku.” Eh,
apatis sekali dia, gerutu Dela dalam hati. Tapi ibu dua anak itu tak peduli. Hitung-hitung sekalian ingin membuktikan
kemanjuran dukun yang guru ngaji itu.
Sesampainya di pedalaman Jawa Barat, Dela dan Siti
berhadapan dengan guru ngaji yang sudah tua dengan jenggot nyaris mencapai
dada. Siti duduk menunduk sementara sang dukun merem-melek dengan bibir
komat-kamit. Baca mantera tentu saja.
Di “kantor” sang dukun tak ada benda-benda
menyeramkan. Seperti tengkorak kepala
manusia. Puluhan keris atau tempayan dengan kembang setaman. Tak ada itu. Juga
tak ada bau
kemenyan, yang biasa menjadi pelengkap suatu ritual klenik. Justru yang ada malah bau au de colone yang
menyeruak dari ketiak Dela.
Cukup lama juga dukun itu melakukan opening ritualnya.
Tubuhnya bergoyang ke kiri lalu ke kanan. Kadang banyak ke kiri ketimbang kanannya. Atau ke kiri tidak, kanan pun
tidak. Goyangnya ke depan dan belakang. Malahan sesekali tubuhnya bergetar
sangat hebat. Dela sempat kepikiran, kalau dukun ini dipastikan sering naik
bajaj. Mulutnya tambah komat-kamit
mirip gerundelan bos di kantor. Dela tak tahu apa yang sebenarnya dilakukan
dukun itu. Dia cuma tahu kalau penderitaan mulai membentang,
akibat betisnya yang agak “kesebelasan” sudah terasa kesemutan dan pegal-pegal. Harapan yang mulai
menggumpal dalam hati, agar
dukun itu menggunakan mantera yang pendek-pendek saja. Sebab duduk
di tikar bercelana jeans ketat, menambah penderitaannya
semakin tak karuan.
Harapan terkabulkan. Itu pun
setelah Dela nyaris pingsan. Terlihat mata dukun itu mulai terbuka. Mengerjap sebentar lalu
memandang Dela dan Siti secara bergantian. Dela menarik
nafas. Lega. Sebab acara
ritual, yang membuat Dela bersumpah tak akan mengikutinya lagi andai suatu hari
di hadapkan pada masalah yang sama, telah selesai.
Dengan lembut sang dukun berujar, “Obatnya gampang ini mah.
Neng Siti pulang kampung saja dulu terus sujud sama Mak. T’rus Neng Siti minta
air bekas wudhu Mak. Segelas diminum, sisanya untuk mandi. Insya Allah
permintaan Neng Siti dikabulkeun.”
Dela tersenyum
senang sementara Siti tetap apatis. Tak lama kemudian Dela dan Siti mohon pamit pada sang
dukun. Tak lupa memasukkan sodaqoh pada kotak yang telah disediakan dekat
pintuk masuk. Dan kembali ke Jakarta karena
pekerjaan kantor menumpuk. Hanya sampai di situ saja Dela dapat menolong, untuk
selanjutnya itu terserah Siti. Namun di samping itu, Dela juga tak rela bila
missi suci ini tidak diselesaikan hingga tuntas. Ia mendesak agar Siti segera
pulang kampung lalu melaksanakan sesuai anjuran sang dukun.
Setelah Dela
mendesak beberapa kali dan Siti butuh waktu berhari-hari untuk berpikir,
akhirnya Siti pun
menurut. Kadung
telah meminta cuti di kantor. Esoknya Siti segera melesat pulang kampung untuk
menghadap Maknya di sebuah kota di Jawa Tengah.
Hasilnya memang mujarab. Tiga bulan kemudian Siti
dipinang seorang lelaki ganteng yang katanya dikenalnya di kereta api saat Siti kembali
ke Jakarta. Enam bulan setelah itu, mereka menikah di kantor urusan agama dan
dirayakan secara sederhana. Hanya mengundang teman-teman dekat saja. Termasuk Dela, yang jasanya perlu dicatat dalam lembaran sejarah. Ia hadir bersama suami
dan kedua anaknya, sekalian turut sebagai saksi.
Dela turut bahagia melihat temannya telah mendapatkan
pasangan hidup. Namun hingga anak pertama Siti lahir, satu setengah tahun kemudian, Dela masih belum mengerti
tentang apa yang menjadi penyebab kejombloan Siti itu. Usut punya usut,
ternyata selama itu Maknya Siti di kampungnya tidak pernah menjalankan shalat 5 waktu.
Pantesan, Siti disuruh meminta air wudhu sang
ibu. Itu dimaksudkan agar Maknya Siti mau kembali melakukan shalat lima
waktu. Begitu.
Jakarta, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar